
Tuhan Visnu menjawab, "O Yudhisthira, pertanyaan engkau sangat suci dan tepat, yang akan memberikan engkau kemashyuran. Seperti yang sudah Aku jelaskan terdahulu tentang Utpanna Mahadvadasi yang utama, yang tiba menjelang bulan mati di bagian bulan Margasirsa yang pada salah satu harinya ketika devi Ekadasi muncul dari badan-Ku untuk membunuh raksasa Mura. Kemudian memberikan manfaat kepada semua-semuanya baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak di tiga buana ini, maka Aku akan jelaskan kepada engkau sekarang tentang Ekadasi yang tiba menjelang purnama di bagian bulan Margasirsa itu.
Ekadasi ini terkenal dengan nama Moksada.
Sebab bisa menyucikan bhakta yang beriman teguh, dari segala reaksi
dosa-dosanya dan Ekadasi ini menganugerahi pembebasan pada bhakta itu. Arca
yang dipuja pada hari inilah Tuhan Damodara. Dengan penuh ketekunan, bhakta
hendaknya memuja dengan: Dupa, Dipa, Bunga, dan Bunga Tulasi/manjari. “O raja
yang terbaik, dengarkanlah apa yang Aku ceriterakan ini tentang sejarah Ekadasi
yang suci dan tua ini. Hanya dengan mendengarkan sejarah ini saja seseorang
dapat menerima manfaatnya sama dengan orang yang melaksanakan Asvameda Yadnya.
Dengan pengaruh manfaat ini leluhur seseorang putra-putra beserta
keluarga-keluarga lainnya yang sedang berada di neraka bisa mendapat surga.
Hanya dengan alasan ini, "O raja, anda hendaklah mendengarkan dengan penuh
perhatian cerita berikut ini.
Pada zaman dahulu kala terdapatlah kota
yang indah sekali bernama Campaka Negara yang dihiasi dengan para Vaisnawa yang
penuh bhakti. Di sana memerintah seorang raja rsi yang bernama Maharaja
Vaikhanasa yang memerintah rakyatnya seakan-akan mereka putra-putri beliau
sendiri. Para brahmana di ibu kota itu semuanya ahli dalam pengetahuan Catur
Veda. Pada suatu malam raja bermimpi, di dalam mimpinya beliau melihat ayahnya
menderita siksaan yang mengerikan di planet neraka Raja sangat gundah dan iba lalu
menangis. Keesokan harinya Maharaja Vaikhanasa menceriterakan mimpinya pada
sidang para brahmana. “O brahmana, Maharaja berkata, di dalam mimpi hamba tadi
malam, hamba melihat ayah hamba sangat menderita di sebuah planet neraka. Dia
menjerit memanggil hamba. “O putraku, tolonglah aku dari siksaan neraka ini!”
Sejak itu hamba tidak pernah merasa tenang dan bahkan kerajaan yang indah
inipun tidak ada artinya bagi hamba lagi. Demikian juga kuda-kuda, gajah-gajah,
kereta-kereta, hamba tidak bisa memberikan kesenangan lagi pada hamba, dan
kekayaan hamba yang berlimpah itupun tak berarti bagi hamba sama sekali. Hamba
pun terasa mereka menjadi sumber kesedihan hamba, sejak hamba melihat ayah
hamba yang tercinta sedang menderita siksaan di neraka. Kemana hamba harus
pergi, dan apa yang bisa hamba kerjakan, untuk menghilangkan sedih ini? Badan
hamba serasa terbakar oleh kesedihan dan kelanjutan. Mohon karunia anda beri
tahulah hamba dana punia macam apa, cara berpuasa yang bagaimana, pertapaan
yang bagaimana, meditasi yang bagaimana yang dapat hamba lakukan untuk
menyelamatkan ayah hamba dari siksaannya dan mendapatkan pembebasan dari
leluhur hamba. “O brahmana yang mulia apa gunanya diri ini sebagai putra yang
perkasa jika ayahnya sendiri harus menderita di planet neraka? Sebenarnya,
kehidupan seorang putra seperti itu benar-benar tak ada gunanya.
Para brahmana menjawab, “O Raja, di
sebuah pengumuman di dalam hutan tidak jauh dari sini adalah asrama di mana
tinggal seorang rsi yang agung bernama Parvata Muni. Silahkan mendatangi
beliau, karena beliau mengerti masalah-masalah yang terjadi di masa lampau,
sekarang dan yang akan datang. Dari segala-galanya dan beliau dengan pasti bisa
menolong anda dalam kesulitan ini.
Setelah mendengar saran dari para
brahmana, raja yang sedih itu segera mempersiapkan suatu perjalanan ke asrama
Parvata Muni yang sangat terkenal itu. Asrama itu sangat besar dan menampung
banyak resi-resi yang ahli-ahli dan terpelajar di dalam bidang berjapa
mengucapkan nama suci Tuhan, menyanyikan sloka suci dari Catur Veda. Sambil
mendekati asrama yang suci itu, raja melihat Sri Parvata Muni duduk di antara
para resi yang lain yang kelihatannya seperti Dewa Brahma sendiri yang
merupakan ciptaan pertama dari penciptanya. Maharaja Vaikhanasa bersujud pada
Parvata Muni sambil menundukkan kepala dan menelungkup di hadapannya. Setelah
raja duduk, Parvata Muni bertanya kepadanya tentang kesejahteraannya dan
tentang situasi kerajaan yang sangat luas itu. Sang Muni juga menanyakan kepada
raja, apakah kerajaannya bebas dari gangguan-gangguan dan juga setiap orang
tenang dan bahagia.
Atas pertanyaan ini raja menjawab, atas
karunia anda “O rsi yang mulia, seluruh kerajaan hamba berada dalam keadaan
baik-baik saja. Namun terdapat sebuah masalah yang baru-baru ini muncul, dan
untuk mengatasinya hamba datang pada anda. O brahmana, karena keahlian anda
untuk memberikan bimbingan. Lalu Parvata Muni, rsi yang paling agung di antara
semua para rsi dan bermeditasi tentang masa lampau, sekarang dan yang datang
dari raja itu. Sesudah beberapa lama dia membuka kembali matanya dan berkata,
“Ayah anda sedang menderita akibat dari melakukan suatu dosa yang besar, dan
hamba telah menemukan dosa apa yang diperbuat itu. Di dalam kehidupan yang
lampau dia bertengkar dengan istrinya ketika dia menikmati kehidupan seks
dengan istrinya yang sedang menstruasi. Istrinya mencoba untuk menolaknya pada
saat dia di dekati, sambil berteriak “Tolong selamatkanlah aku, “O suami”,
mohon janganlah diganggu masa menstruasi hamba, tetapi dia tidak menggubrisnya
sama sekali. Karena disebabkan dosa inilah ayah anda jatuh ke neraka yang
kondisinya seperti itu.
Raja Vaikhanasa lalu berkata, “O rsi
yang paling mulia, dengan proses puasa atau dana punia yang bagaimana hamba
bisa membebaskan ayah hamba dari kondisi seperti itu. Tolonglah beritahu hamba,
bagaimana hamba bisa meringankan beban reaksi dosanya yang merupakan halangan
yang besar dalam perjalanannya ke tempat pembebasan.
Resi Parvata menjawab, menjelang purnama
pada bulan Margasirsa terdapatlah suatu Ekadasi yang disebut Moksada. Jika anda
melaksanakan Ekadasi yang suci ini serta puasa dengan ketat dan sepenuhnya, dan
secara langsung memberikan kepada ayah anda yang menderita itu hasil dari apa
yang anda lakukan, dia akan dibebaskan dari rasa sakit-nya dan saat itu juga
dibebaskan.
Setelah mendengar hal ini, raja
Vaikhanasa dengan penuh rasa hormat mengu-capkan banyak-banyak terima kasih
kepada resi yang agung itu dan lalu kembali ke istananya. “O Yudhisthira,
ketika menjelang purnama di bagian bulan Margasirsa itu tiba, Maharaja
Vaikhanasa dengan penuh keyakinan dan dengan sempurna melaksanakan puasa
Ekadasi dengan istrinya, anak-anaknya, dan keluarganya yang lain dan dia dengan
rela hati memberikan hasil dari puasanya ini kepada ayahnya, dan ketika dia
membuat sajian itu, bunga-bunga yang indah bertaburan dari angkasa, ayah raja
itu kemudian dipuji oleh utusan para dewa dan didampingi dalam perjalanannya ke
surga. Ketika dia melewati tempat putarnya, ayahnya berkata kepada raja .“Anakku
sayang, segala pemujian kepada anda!” pada akhirnya dia sampai di kawasan
surga.
“O putra Pandu, siapapun yang secara
ketat melaksanakan Moksada Ekadasi yang suci, mengikuti aturan dan peraturan
yang ditetapkan, menerima penuh dan pembebasan yang sempurna setelah kematian.
Tidak ada lagi puasa yang lebih baik dari Ekadasi ini dari bulan purnama pada
bulan Margasirsa, “O Yudhistira, untuk itu adalah sebuah kristal yang cemerlang
dan hari tanpa dosa. Siapapun dengan penuh keyakinan melaksanakan puasa Ekadasi
ini, yang bagaikan cintamani (batu permata yang dapat memenuhi semua
keinginan), memperoleh kebaikan khusus yang sangat sulit dihitung, hari puasa
ini bisa mengangkat seorang ke planet-planet surga dan mencapai pembebasan yang
sempurna”. Demikianlah akhir dari uraian keagungan Margasirsa sukla Ekadasi,
atau Moksada Ekadasi, dari Brahamanda-Purana.
Catatan :
- Ketika Ekadasi jatuh pada Dvadasi, bhakta Visnu tetap menamakannya hari Ekadasi.
- Empat Veda adalah Sama, Yajur, Rg. Dan Atharva.
- Tujuh cabang dari kekuasaan seorang raja adalah raja itu sendiri, para menterinya, kekayaannya, kekuatan militernya, para musuhnya, para brahmana, korban suci yang dilaksanakan dalam kerajaannya, dan kebutuhan yang diperlukan olehnya.
- Jika seorang melaksanakan puasa hari Ekadasi untuk seorang leluhur yang telah meninggal yang menderita di neraka, kemudian hasil kebaikan itu dikumpulkan diberikan leluhur untuk meninggalkan neraka dan masuk ke alam surga, dimana dia bisa mempraktekkan pelayanan bhakti kepada Sri Visnu dan pulang kembali kepada Tuhan. Tapi seorang yang melaksanakan Ekadasi untuk kemajuan spiritualnya sendiri pulang kembali kepada Tuhan sendiri, tidak pernah kembali ke dunia material ini.
Sumber: http://vedabaseindonesia.wordpress.com/2013/12/14/moksada-ekadasi
0 komentar:
Post a Comment